UNDIP, Semarang (10/6) – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus memperkuat perannya sebagai kampus dengan inovasi berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Tekad ini tercermin dari dukungan alumni Fakultas Kedokteran UNDIP tahun 1982, Dr. dr. Budi Laksono, M.HSc., atas karyanya bersama TNI AD yang membangun lebih dari 1.000.000 (satu juta) jamban dan telah meraih berbagai penghargaan MURI, Kick Andy Heroes, dan berbagai event lain.
Dr. Budi yang lebih dikenal sebagai ‘Budi Jamban’ dan ‘Dokter Jamban’ melakukan audiensi di kampus UNDIP, pada Rabu, 10 Juni 2026, di Gedung Widya Puraya UNDIP Tembalang, dengan pertemuan bersama Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si.
Turut hadir dalam audiensi ini yaitu Wakil Rektor Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik, Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D.; Direktur Reputasi, Kemitraan, dan Konektivitas Global, Prof. Dr. Ir. Hadiyanto, S.T., M.Sc., IPU; Direktur Jejaring Media, Komunitas, dan Komunikasi Publik, Dr. Nurul Hasfi, S.Sos., M.A.; dan Wakil Direktur Inovasi dan Hilirisasi Industri, Dr. I Made Bayu Dirgantara, S.E., M.M.; dan Alfabetian Harjuno Condro Haditomo, S.Pi., M.Si., Ph.D mewakili LPPM.
Dalam pertemuan tersebut, Rektor UNDIP mengapresiasi inovasi yang diciptakan oleh Dr. Budi Laksono yang telah memberikan dampak luas bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. Dedikasinya selama belasan tahun untuk sanitasi sehat di Indonesia melalui gerakan pembangunan jamban telah mendapatkan apresiasi dari MURI dengan capaian “Pembuatan Jamban Berkelanjutan Terbanyak” pada tahun 2019.
“Saya punya cita-cita sebelum saya meninggal, saya ingin seluruh penduduk Indonesia telah memiliki jamban,” kata Dr. Budi. Hingga saat ini ia bersama sejawat, sahabat, donatur baik dari IKA UNDIP, Himpuni, rotary, Pemkot Semarang, DMTK, dan terbesar dengan TNI AD telah membangun lebih dari satu juta jamban sehat dan murah di berbagai wilayah di Indonesia. Ini artinya jika masing-masing rumah tangga memiliki 4 (empat) anggota keluarga, maka teknologi ini telah memberikan manfaat bagi 4 (empat) juta masyarakat.
Menilik fokus pada program pembangunan jamban, Dr. Budi Laksono menjelaskan bahwa jamban merupakan salah satu indikator penting yang mencerminkan kondisi sanitasi dan kualitas kesehatan suatu wilayah. Buruknya akses sanitasi berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti Diare, Kecacingan, Tipes, Disentri, Hepatitis A, Anemia, hingga kematian pada balita, serta berkontribusi terhadap tingginya angka stunting.
“Kita harus menjaga asupan makanan sehat, bergizi, dan bersih dari kuman. Meskipun begitu, setiap manusia secara alami mengandung kuman usus di mana mereka sudah kebal. Tetapi bila kuman itu keluar, maka akan menginfeksi orang lain yang kurang kebal lewat buang air besar sembarangan (BABS), yang nantinya mencemari lingkungan. Kuman tersebut meliputi virus, jamur, bakteri, cacing, dan lain-lain.
Sejak memulai pengabdiannya pada akhir tahun 1990-an, Dr. Budi mengembangkan berbagai model jamban sederhana yang murah, mudah dibuat masyarakat, dan dapat diterapkan pada berbagai kondisi lingkungan. Salah satu inovasinya adalah ‘Jamban Amfibi’ yang tetap dapat digunakan baik saat tersedia air maupun dalam kondisi terbatas air. Selain itu, ia juga mengembangkan konsep ‘Jamban Terbang’ yang dirancang untuk wilayah terdampak penurunan muka tanah (land subsidence) dan kawasan yang sering mengalami banjir.
Jamban Terbang sendiri khusus dibuat untuk wilayah rob di kawasan pesisir. Jamban ini berupa toilet yang dibangun di atas tumpukan buis beton atau gorong-gorong air berbentuk bundar dengan tinggi satu meter dan diameter 80 (delapan puluh) sentimeter. Ketinggian jamban disesuaikan dengan kondisi rob di masing-masing wilayah. Jika suatu saat jamban tenggelam akibat penurunan muka tanah, buis beton dapat ditambah kembali sehingga jamban tetap dapat digunakan secara berkelanjutan. Selain itu, pada rumah panggung pantai atau rumah perahu, Dr. Budi menciptakan konsep septic tank bernama “BIO INTEGRATED COMPACT SEPTIC TANK”. Septic tank ini sehat karena air yang keluar sudah steril sehingga bisa mengalir ke saluran air sekitar.

Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi inisiatif yang lebih luas melalui gagasan “Gerakan Membangun Satu Juta Jamban” atau GEMA SANG JUARA yang diinisiasi oleh TNI Angkatan Darat RI untuk mempercepat peningkatan akses sanitasi layak di Indonesia.
MURI yang pertama yaitu gerakan satu desa berjamban yang diciptakan dalam waktu 2 (dua) minggu, Di Desa Cepoko, Kota Semarang. Sementara MURI yang kedua, di wilayah Gunungpati dan Mijen dimana terbangun 1.500 (seribu lima ratus) jamban dengan waktu hanya 4 (empat) minggu. Yang ketiga, masyarakat dengan koordinasi bersama Dr. Budi membangun 5.000 (lima ribu) jamban di area Kecamatan Tembalang, Banyumanik, Ngaliyan, Pedurungan, dan Gayamsari. Di area Tembalang, termasuk di sekitar kampus UNDIP ini, hanya dibutuhkan waktu sekitar 6 (enam) minggu.
Konsep pembangunannya diawali dengan pendataan dari rumah ke rumah wilayah sasaran. Kemudian keluarga yang belum mempunyai WC atau WC dalam keadaan rusak, diundang dan mendapatkan sesi edukasi, motivasi yang disebut “Hypnolatrine”. Setelah mereka terhipnotis dan semangat, maka masyarakat diberikan stimulan generik berupa material jamban generik. Hari berikutnya, semua keluarga sasaran diberi bantuan untuk membangun WC. Konsep ini kemudian diadopsi secara nasional oleh Mabes Angkatan Darat, untuk TMMD dengan mengerahkan semua satuan TNI AD dan 52.000 (lima puluh dua ribu) Babinsa se-Indonesia sehingga telah terbangun 1.037.876 jamban keluarga. Gerakan ini terkenal disebut Bapak Kasad sebagai GEMA SANG JUARA. Dr. Budi, alumni yang inovatif ini, menginspirasi dan memberi edukasi teknis mulai dari terlaksananya gerakan hingga selesai.